Rabu, 15 Oktober 2014
Ibadah puasa
Ibadah Puasa dan Pembentukan Pribadi Yang Paripurna
Oleh Asmuni, Prof.Dr,H,MA
Puasa ramadan merupakan kewajiban bagi setiap umat Islam dan berlaku secara universal. Artinya, di mana saja umat Islam berada wajib menjalankan puasa ramadan kecuali ada halangan syar’i seperti karena sakit, musafir, menstrasi bagi wanita dan lain-lain. Kewajiban berpuasa dengan tegas dinyatakan dalam surat al-Baqrah ayat 183 yang artinya” wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dinyatakan bahwa Islam dibina atau didasarkan pada lima kewajiban yaitu : mengucap dua kalimah syahadah (asyhadu alla ilahaillallah waasyhadu anna Muhammadar Rasulullah),mendirikan salat, membayar zakat, melaksanakan ibadah haji dan menjalankan ibadah puasa ramadan ( Sahih Bukhari,jld.1,hlm.12).
Islam, adalah penyerahan diri secara total kepada Allah. Apapun bentuk kewajiban yang sudah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya wajib dilaksanakan dengan penuh kepatuhan. Sebaliknya, segala yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nyawajib dijauhi dengan penuh kepatuhan. Inilah sikap yang seharusnya terhunjam dalam diri seorang muslim. Tidak justeru terjadi sebaliknya. Artinya, sikap pribadi muslim yang sesungguhnya bukan mempertanyakan lebih dahulu apa sebab diwajibkannya sesuatu atau dilarangnya sesuatu. Bukan berarti tidak boleh menyelidiki hikmah yang terkandung di dalamnya. Puasa yang telah diwajibkan kepada umat Islam wajib dikerjakan dengan penuh ketundukan. Selanjutnya, silahkan mencari berbagai hikmah yang ada di dalamnya. Bangkai, darah dan daging bagi yang diharamkan dalam surat al-Baqarah ayat 173 adalah sesuatu yang wajib dijauhi dengan penuh kepatuhan tanpa harus mempertanyakan faktor penyebabnya. Mencari dampak negatif daripadanya adalah sesutu yang dibenarkan dalam rangka memperkuat sifat tunduk dan patuh kepada Allah.
Ibadah puasa ramadan, merupakan yang banyak manfaatnya bagi kepentingan pribadi selain daripada perintah wajib bagi umat Islam. Antara lain adalah untuk mewujudkan kepribadian yang paripurna. Maksudnya adalah mewujudkan pribadi-pribadi yang memiliki kesempurnaan lahir dan batin. Orang yang menjalankan ibadah ramadan insya Allah akan dapat memperoleh kesehatan jasmani yang sempurna. Hal ini telah dinayatkan oleh Rasulullah Saw yang artinya “ puasalah kamu niscaya kamu akan sehat “ ( Hadis dari Abu Hurairah riwayat Abu Nu’aim). Dalam berbagai tulisan ilmiah yang dikemukakan oleh pakar medis, bahwa orang yang berpuasa itu dapat menurunkan kadar gula darahl. Ini, merupakan sesuatu yang rasional, karena dengan berpuasa pasti berkurang asupan makanan yang mengandung kadar gula. Demikian juga halnya dengan menurunkan kadar kolestrol. Namun demikian, hendaklah diikuti benar prilaku Nabi Muhammad Saw dalam berppuasa. Terutama di waktu berbuka puasa janganlah makan atau minum yang manis-manis secara berlebihan. Pernyataan Nabi Muhammad Saw tentang makanlah sebelum lapar dan berhentilah sebelum kenyang harus betul-betul dilaksanakan. Jika seseorang berpuasa, lalu dikala berbuka makan dan minum berlebihan sudah pasti tidak akan dapat mewujudkan kesehatan yang baik.. Ternyata, memang banyak orang yang berpuasa setelah dicek kadar gulanya justeru malah naik. Ada yang sampai 300 dan bahkan ada yang sampai 400, juga demikian dengan kadar kolestrolnya. Dapat diduga orang tersebut pola makan diwaku berbuka perlu dilakukan seperti yang dicontohkan Rasul Saw.
Dalam aspek moral, puasa juga berdampak positif. Sebabnya, orang yang berpuasa dilarang untuk berkata dan berbuat sesuatu yang tidak baik seperti mencaci maki, mengupat , dan lain-lain. Rasulullah bahkan menyatakan jika ada orang lain mengajak bergaduh atau cacimaki, katakanlah saya ini sedang berpuasa. Prilaku sabar dan mampu mengendalikan diri itulah kunci daripada kesehaatan jasmani dan ruhani. Kata para pakar kesehatan orang yang tidak mampu mengendalaikan emosinya lalu mudah marah akan berpengaruh negatif pada aspek kesehatannya. Sifat marah ternyata dapat meningkatkan adrenalin (sejenis hormmon) 20% sampai 30 %. Terjadinya peningkatan itu akan dapat mempersempit pembuluh darah dan tentukan berdampak negatif pada kesehatan. Rasulullah Saw sewaktu ditanya oleh seorang sahabat tentang prilaku yang paling baik, ternyata beliau mengatakan jangan engkau jadi orang yang pemarah. Hal ini sampai diulangi oleh Rasulullah sampai beberapa kali “ jangan engkau jadi orang yang pemarah” (Sahih Bukhari,jld.5,hlm.2267). Orang yang berpuasa harus dapat menahan emosi agar dapat mewujudkan pribadi yang paripurna. Pesan-pesan Rasul tentang hal ini tentunya harus selalu diingat lalu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
.Islam sebagai agama Allah yang sangat sempurna, mempunyai banyak konsep yang positif. Namun demikian, pada tataran aplikasi banyak yang tidak dipatuhi oleh umatnya. Allah dengan tegas melarang minuman keras, berjudi, mengundi nasib dengan anak panah ( al-Maidah 90), ternyata banyak orang tidak peduli. Mengaku Islam, tetapi masih gemar berjudi, mabuk-mabukan, mengundi nasib atau menatangi dukun minta diramal bagaimana masa depannya. Diwajibkan berpuasa ramadan, ternyata banyak orang yang tidak berpuasa tanpa ada alasan syar’i’ yang sah. Islam itu agama yang cukup toleran dan fleksibel. Bagi mereka yang sedang musafir atau sakit boleh tidak puasa dan dapat menggantinya pada hari yang lain. Jika sakitnya kronis dan menurut diagnosa dokter sulit untuk sembuh cukup bayar fidiyah dengan memberi makan orang fakir miskin. Perhitungannya satu hari diukur dengan makanan yang biasa kita makan sendiri. Jika seseorang biasa makan satu hari tiga kali, maka juga fakir miskinnya diberi makan tiga kali. Jika diuangkan kita makan satu hari Rp 10.000, maka bayar fidyah satu bulan adalah 30 hari x Rp 10,000 = Rp 300.000. Semuanya tergantung dengan kemauan seseorang dalam mengamalkan ajaran agama. Jika punya kemauan kuat niscaya akan dapat melaksanakan ajaran agama dengan baik.
Secara faktual, penyakit mental manusia, antara lain, riya’, hasad,dengki, rakus dan merasa waswas. Hasad dan dengki yaitu suatu sikap sakit hati apabila orang lain mendapat kesenangan dan kemuliaan. Rasa sakit hati itu, disertai dengan upaya agar kesenangan dan kemulian orang lain dapat hilang lalu beralih kepada dirinya. Rakus yaitu keinginan yang berlebihan untuk makan. Waswas adalah penyakit hati sebagai akibat dari bisikan hati yang merasa ragu-ragu dalam melakukan suatu perbuatan. Dalam kehidupan di era globalisasi dewasa ini, banyak orang yang secara lahiriyah sehat. Hidupnya terpenuhi segala macam kebutuhan materiil, dengan memiliki rumah mewah, mobil mewah dan fasilitas lainnya cukup banyak. Namun demikian, jika dicermati dengan inten, banyak orang yang menderita penyakit mental yang cukup parah.Sebuah fakta menunjukkan, lebih dari separuh tempat tidur di semua rumah sakit di Amerika Serikat terisi oleh pasien-pasien gangguan mental. Penyembuhannya butuh dana jutaan dolar setiap tahunnya. Gangguan mental dapat berakar dari tidak terpenuhinya kebutuhan psikis dasar yang berasal dari eksistensi manusia yang harus dipuaskan.
Menurut Islam pengembangan kesehatan mental terintegrasi dalam pengembangan pribadi pada umumnya. Kondisi kejiwaan yang sehat merupakan hasil dari jiwa yang matang secara emosional, intelektual, dan sosial. Di samping itu, merupakan dampak positif daripada keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Keduanya tidak bersifat abstrak dan tidak dapat diketahui oleh orang lain, tetapi dapat diketahui dari aspek perilakunya yang positif dan ibadah puasa mampu mewujudkannya. Dalam konteks ini, secara ilmiah, puasa dapat memberikan kesehatan fisik dan mental. Ini dapat dilihat dari beberapa hasil penelitian yang dilakukan para pakar. Penelitian Nicolayev, seorang guru besar yang bekerja pada lembaga psikiatri Moskow (The Moskow Psychiatric Institute), mencoba menyembuhkan gangguan kejiwaan dengan berpuasa. Dalam usahanya itu, ia menterapi pasien sakit jiwa dengan menggunakan puasa selama 30 hari. Nicolayev mengadakan penelitian dan eksperimen dengan membagi subyek menjadi dua kelompok sama besar, baik usia maupun berat-ringannya penyakit yang diderita. Kesemua jenis penyakir ruhaniyah tersebut dapat hilang dengan berpuasa, karena orang berpuasa dituntut untuk mengendalikan diri dengan mewujudkan sifat jujur, tidak berbohong, saling mengasihi dan lain-lain. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua pihak. Wallahu a’lam bis sawab.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar